Pembakaran Limbah Hasilkan Penyebab Utama Kanker
Gizi.net - Hingga kini belum ada rumah sakit (RS) di Indonesia yang mengelola limbah medisnya dengan baik. Sebagian besar RS itu menggunakan insinerator (tungku pembakaran) untuk memusnahkan limbah. Padahal, pembakaran limbah atau sampah yang mengandung senyawa-senyawa berbahaya itu akan menghasilkan dioksin, yakni bahan beracun berbentuk kristal putih yang dihasilkan saat terjadi pembakaran substansi alami kimia.
Dari beberapa penelitian baru-baru ini diketahui, dioksin merupakan penyebab utama penyakit kanker yang mematikan. Ironisnya lagi, hampir semua RS di Indonesia berlokasi di dekat permukiman penduduk sehingga tingkat bahaya dari dampak pengelolaan limbah melalui pembakaran itu pun makin mengkhawatirkan.
Dosen Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI) Sunardi dan Widyatmoko, dosen kimia dan biologi lingkungan Universitas Trisakti (Usakti) Jakarta, mengemukakan hal itu dalam lokakarya mengenai teknologi pemrosesan limbah di Jakarta, Senin (29/9).
Sunardi menambahkan, hingga kini pengamanan dampak limbah berbahaya, terutama di RS, masih sangat minim. Belum lagi, dari ribuan RS di Indonesia diperkirakan hanya 800 RS yang memiliki insinerator, kondisinya pun jauh dari kategori layak.
"Tapi, kita tidak bisa memastikan seberapa banyak limbah yang bisa dikurangi bahayanya. Sayangnya lagi, belum banyak yang mengerti bahwa pembakaran limbah sangat membahayakan," katanya.
Pembakaran limbah, terutama jenis organik akan menghasilkan dioksin dengan kandungan senyawa beracun yang tinggi. Tanpa pengelolaan yang benar, dalam dioksin yang dihasilkan dari pembakaran limbah ataupun sampah organik itu akan terkandung senyawa tetra chloro difensopara dioksin (TCDD), senyawa paling beracun dalam dioksin.
Menurut Sunardi, TCDD juga bisa dihasilkan dari pembakaran daging atau kayu, dan sangat berpotensi menyebabkan kanker. Selama ini, ia melanjutkan, di Indonesia orang masih beranggapan penyebab kanker adalah kelebihan lemak, tanpa berpikir sedikit pun tentang bahaya dioksin.
"Seperti halnya kasus di Vietnam. Setelah 10 tahun berselang baru terungkap penyebab utama kanker di negeri itu adalah dioksin. Belum banyak pula yang tahu bahwa insinerator sebagai penghancur limbah dari RS merupakan penghasil dioksin paling berbahaya," ujarnya.
Dua Alternatif
Sunardi juga menyayangkan selama ini banyak RS, klinik, dan puskesmas yang belum memedulikan pemusnahan alat suntik bekas. Padahal, semua peralatan medis, terutama alat suntik yang tidak bisa lagi digunakan itu harus dimusnahkan.
"Beda dengan alat pendeteksi dioksin, yang masih sangat sulit didapat dan harganya mahal. Karena itu di Indonesia belum bisa diketahui berapa banyak dioksin yang dihasilkan karena alat pengukurnya, gas chromatography maspectro meter, belum ada. Alat itu mampu mendeteksi kadar dioksin di udara dalam jumlah sangat kecil," kata Sunardi.
Sementara itu, menurut Widyatmoko, semua insinerator yang digunakan di RS di Indonesia belum dilengkapi dengan filter (penyaring), sehingga sangat berpotensi menghasilkan dioksin dari hasil pembakarannya. Apalagi, proses pembakarannya dengan suhu di atas 800 derajat Celsius, secara otomatis akan membentuk senyawa-senyawa toksik (beracun). "Ada 300 senyawa berbahaya dalam dioksin. Sedangkan, insinerator yang ada sama sekali tidak dilengkapi filter. Jadi, sudah pasti senyawa-senyawa itu tetap membahayakan meski sudah diproses," katanya.
Ia menambahkan, untuk meminimalkan dampak limbah RS setidaknya ada dua alternatif. Pertama, membuat satu lokasi terpadu khusus untuk RS, yang jauh dari permukiman penduduk. Kedua, jika pemusnahan limbah tetap menggunakan insenerator, alat itu harus dilengkapi dengan filter.
"Tetapi, lokasinya tetap harus jauh dari permukiman, karena bagaimana pun dampak pembakaran limbah itu tetap membahayakan. Sebenarnya, ada cara yang paling efektif untuk mengatasi limbah, yakni dengan teknik pyrolis atau pemanasan tanpa oksigen sehingga senyawa berbahayanya pisah dengan sendirinya dan cair. Pemanasannya dengan suhu 1.500 derajat Celsius," Widyatmoko menjelaskan. (H-13)
http://www.suarapembaruan.com/News/2003/09/30/index.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar